ENREKANG – Mustakim Pabiccangi, pemuda asal Desa Kaluppang, Kecamatan Maiwa, Enrekang, Sulsel, tak pernah menyangka akan melanjutkan studi doktornya (S3) di Taiwan.

Ia mengambil jurusan bahasa dan humaniora di salah satu universitas ternama di Taiwan bernama Kun Shan University.

Mustakim mendapat beasiswa yang difasilitasi oleh PP Muhammadiyah.

Dia iseng-iseng menghubungi teman kerjanya di Vietnam melalui email.

Ternyata rekannya tersebut sedang bekerja dan sudah menikah dengan seorang gadis di Taiwan.

“Saya bercanda chat teman, bilang ajak saya juga ke Taiwan, ternyata saya diajak ke sana,” kata Mustakim, Senin (25/9/2017).

Sesampainya di Taiwan, Mustakim mendaftar dan ternyata lulus.

Ia bakal menjalani perkuliahan dengan program tahun pertama belajar Bahasa Mandarin, setelah itu belajar normal sebagaimana pilihan jurusannya.

Di kampusnya itu, Mustakim baru mengenal tiga orang indonesia, selebihnya Eropa, Afrika, dan negara asia lainnya.

“Pribahasa bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan ternyata benar, maka saya memyakini ini adalah ketentuan Allah,” ujarnya.

Dari pengalamannya itu, Mustakim ingin memberikan support kepada pemuda Enrekang agar jangan berhenti dan takut bermimpi.

Mustakim ingin membangunkan generasi muda yang tidak berani keluar dari zona nyaman, malas bermimpi dan tak mau bersusah payah.

“Dunia ini kecil tergantung impian Anda, mau keluar negeri, punya mobil mewah, rumah mewah, atau apalah, itu semau jidat kalianlah. Tidak ada yang tidak mungkin walau kita orang kampung, ayo bermimpi mumpung gratis,” ucap Alumni S1 UIN Alauddin Makassar dan Pasca UNJ Jakarta itu.

ENREKANG – Adanya Peraturan Presiden yang memberikan kebebasan bagi sekolah untuk memilih enam atau lima hari sekolah disambut baik oleh pihak SMP Negeri 2 Maiwa, Kabupaten Enrekang.

Menurut Kepala SMPN 2 Maiwa, Alimus Muhammad Nur, dengan kebijakan itu pihaknya memilih menerapkan sistem lima hari sekolah.

Hal itu dikarenakan pihaknya akan memanfaatkan di akhir jam pelajaran siswa untuk menerapkan kegiatan ekstrakurikuler yaitu Pramuka dan Baca Tulis Al Quran (BTA).

“Orang tua siswa sangat bersyukur karena anak mereka diajar mengaji di sekolah,” kata Alimus kepada  Kamis (14/9/2017).

Ia berharap, Pemerintah daerah dapat memberikan fasilitas pendukung dan tenaga pengajar yang kompeten.

Yang berkaitan dengan Perda tentang Baca Tulis Al Quran (BTA) dan pengembangan olahraga atau permainan tradisional.

“Karena itu merupakan hal sangat penting dalam pengembangan dan pendidikan karakter siswa,” ujarnya.